Monday, 30 September 2019

Stop Mom Shaming, Start Mom Praising

Bila mendengar kalimat seperti di atas, bisa jadi Bunda terkena Mom-shaming. Mom-shaming adalah perilaku mempermalukan ibu lainnya, seakan diri Anda lebih baik. Biasanya, kritikan ini terkait metode persalinan yang dipilih, pola pengasuhan anak, soal menyusui, penggunaan susu formula, atau apa pun yang berhubungan dengan anak.

Terdapat sebuah survei yang dilakukan oleh JAKPAT tahun 2018 pada 574 Bunda yang memiliki anak. Survei ini bertujuan untuk melihat pendapat para Bunda dan cara menyikapi mom-shaming dalam kehidupan sehari-harinya. Mereka difokuskan pada dua topik, yaitu Bunda yang punya pengalaman diperlakukan atau dikritik atau menjadi korban mom-shaming, atau Bunda yang berperan sebagai pelaku alias mom-shamer.

Perilaku mom-shaming sering kali menjadi kedok rasa tidak aman (insecurity) seseorang mengenai hal-hal yang mereka harap bisa mereka lakukan secara berbeda. Bagi sebagian Bunda, yang mungkin punya anak-anak yang berusia lebih besar, melakukan mom-shaming adalah mungkin cara memberi tahu Anda untuk tidak melakukan kesalahan seperti yang ia pernah perbuat.

Bagaimana cara menghadapi mom-shaming? Habiskan waktu lebih banyak dengan orang-orang yang setia mendukung Anda, kurangi dan batasi interaksi ibu-ibu mom-shamer—baik teman maupun keluarga, tanggapi kritikan dengan selera humor, Jangan terpengaruh oleh teman-teman yang pola asuhnya terlihat mudah dan tanpa cela—apalagi jika Anda melihatnya di media sosial.

Setiap Bunda sudah menjadi Bunda yang terbaik bagi keluarganya. Karenanya, yuk Bunda, kita mulai mendukung satu sama lain dalam mengasuh si Kecil!

Bunda Tau Kamu Bisa Bantu Bunda, Nak!

Kalau pernah berarti Bunda punya harapan yang besar untuk si Kecil untuk hidup lebih mandiri, khususnya dalam situasi PSBB ini yang menjadi momen yang tepat.